Sedih Berpisah dengan Ramadhan



Di ujung langit yang mulai memudar cahayanya, dan di balik tirai awan yang semakin menggelap, terasa ada kepedihan yang menyelimuti hati. Suara azan yang kembali menggema di antara bangunan-bangunan kota tidak lagi menyiratkan kegembiraan, melainkan pesan perpisahan yang tak terelakkan.

Bulan Ramadhan, sang penghulu yang mulia, kini siap meninggalkan kita. Ia, yang telah menjadi teman setia dalam setiap sujud dan haru, akan pergi meninggalkan kita dalam keheningan dan kesedihan.

Setiap langkah yang kita lalui dalam bulan suci ini, setiap doa yang kita panjatkan, setiap tangisan yang kita tahan di malam yang sunyi, semuanya menjadi bagian dari perpisahan yang menyayat hati. Bagaimana mungkin kita tak merasa sedih, ketika kita harus berpisah dengan bulan yang telah menjadi saksi setia perjalanan spiritual kita?

Di malam terakhir Ramadhan, ketika kita duduk di dalam keheningan dan menyaksikan bulan yang semakin pudar kepergiannya, air mata tak terbendung lagi mengalir di pipi yang kering karena puasa. Kita merenung, membiarkan kenangan indah bergulir di dalam benak, seperti cahaya yang memancar di tengah gelapnya malam.

Bulan Ramadhan bukan sekadar berlalu begitu saja. Ia adalah pengingat akan kebesaran Allah, kesempurnaan cinta-Nya, dan kekuatan untuk menghadapi cobaan hidup. Namun, dengan berpisah dari bulan yang penuh berkah ini, kita juga harus berpisah dari momen-momen penuh makna, dari kesempatan untuk memperdalam hubungan dengan-Nya, dan dari kesempatan untuk memperbaiki diri.

Ketika azan subuh berkumandang untuk terakhir kalinya di bulan yang suci ini, kita merasa teriris oleh kepedihan yang mendalam. Namun, di balik kepedihan itu, kita juga diingatkan akan janji Allah bahwa setiap perpisahan akan diikuti oleh pertemuan yang lebih indah di masa depan.

Maka, meski hati teriris oleh kesedihan yang mendalam, kita harus menguatkan diri dengan keyakinan bahwa setiap perpisahan akan membawa kita pada pertemuan yang lebih bermakna. Kita berpaling dengan penuh harap kepada-Nya, memohon agar pertemuan dengan bulan Ramadhan berikutnya akan menjadi lebih indah lagi, dan setiap perpisahan menjadi sebuah peluang untuk bertemu kembali dengan keberkahan yang tiada tara.

Post a Comment

Silahkan memberikan tanggapan dengan menggunakan bahasa yang santun..terimakasih... :-)

Previous Post Next Post

Popular Items

Ukuran Malaikat